Sabtu, 28 Januari 2012
Siklon Tropis Bunga Indonesia
Daerah pertumbuhan siklon tropis dapat dibagi menjadi 7 wilayah. Indonesia tergabung dalam cakupan wilayah Australia, yang meliputi semua area di selatan katulistiwa, 90 - 160°BT termasuk Australia, Papua Nugini, bagian barat Kepulauan Solomon, Timor Timur dan bagian selatan Indonesia (wikipedia). Siklon tropis di wilayah ini diamati oleh 5 Tropical Cyclone Warning Centres (TCWC): Australian Bureau of Meteorology di Perth, Darwin, dan Brisbane; TCWC Jakarta di Indonesia; dan TCWC Port Moresby di Papua Nugini. Tercatat beberapa siklon tropis dalam musim siklon tahun 2011-2012, siklon tropis Fina yang berlangsung 19 – 23 Desember 2011 (kategori 1), siklon tropis Grant berlangsung 21 – 30 December 2011 (kategori 2), siklon tropis Heidi berlangsung 9 – 13 Januari 2012 (kategory 2), dan yang masih berlangsung adalah siklon tropis Iggy yang mulai tumbuh 22 January 2012 dan mencapai kategori 2 pada 27 Januari 2012 (wikipedia). Update perkembangan lintasan siklon tropis Iggy dapat dilihat di situs BOM Australia. Tata nama penamaan siklon tropis tersebut menggunakan tata nama Australia yang menggunakan daftar berisi 104 nama orang.
Indonesia juga memiliki daftar nama siklon tropis. TWCC (Tropical Center Warning Center) Jakarta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyediakan dua daftar nama, list A berisi 10 nama bunga, yaitu Anggrek, Bakung, Cempaka, Dahlia, Flamboyan, Kenanga, Lili, Mawar, Seroja, dan Teratai. Sedangkan list B berisi 10 nama buah, yaitu Anggur, Belimbing, Duku, Jambu, Lengkeng, Mangga, Nangka, Pisang, Rambutan dan Sawo. Dalam Wikipedia, dijelaskan bahwa TCWC Jakarta mengamati siklon tropis dari katulistiwa 0 - 10°LS dan dari 90 - 125° BT. Jika terjadi siklon tropis dalam wilayah tanggung jawab TCWC Jakarta maka akan diberi nama sesuai daftar tersebut. Siklon tropis Anggrek merupakan siklon tropis pertama yang dinamai menurut tata nama tersebut. Siklon tropis Anggrek merupakan siklon tropis kategori dua yang terbentuk pada 28 Oktober 2010, mencapai intensitas maksimal pada 1 November 2010, dan melemah pada 4 November 2010 (BOM Australia). Dengan urutan tata nama tersebut maka nama berikutnya yang akan digunakan adalah Bakung.
http://green.kompasiana.com/iklim/2012/01/28/siklon-tropis-bunga-indonesia/
Jumat, 27 Januari 2012
Siklon Tropis IGGY Penyebab Angin Ribut
Apa yang menyebabkan terjadinya angin ribut ini? Saya mencoba mencari informasi dari situs Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Ternyata pada situs BMKG terdapat Peringatan Dini Cuaca Ekstrim yang berlaku 27 January 2012 - 30 January 2012. Isi dari peringatan dini itu memberitahukan mengenai adanya Badai Tropis IGGY di Samudera Hindia sebelah Selatan Jawa Barat serta daerah tekanan rendah di Laut Arafuru bagian Selatan yang membentuk pumpunan angin memanjang dari Pesisir Barat Lampung hingga Laut Arafuru. Konsentrasi awan hujan terjadi di Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian Timur dan Selatan, Sulawesi bagian Tengah dan Selatan, Maluku, Papua Barat serta Papua bagian Tengah. Wilayah yang berpotensi hujan lebat adalah Pesisir Barat Lampung, Kalimantan Timur bagian Timur dan Selatan, Kalimantan Selatan bagian Timur, Sulawesi Tengah bagian Timur, Sulawesi Selatan bagian Utara dan Selatan, Papua Barat bagian Selatan, dan Papua bagian Tengah. Sedangkan wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang adalah Lampung, Banten, DKI Jakarta bagian Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Maluku bagian Tenggara.
Informasi mengenai siklon pada situs BMKG menerangkan bahwa siklon tropis yang saat ini terdapat di wilayah Indonesia sebelah Selatan Katulistiwa adalah Siklon Tropis IGGY. (Wilayah Indonesia sebelah Selatan Katulistiwa meliputi wilayah yang dibatasi antara 0-11 LS dan 90-141 BT).
Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta BMKG memberikan peta lintasan siklon tropis dan wilayah yang terpengaruh Siklon Tropis IGGY, sebuah peta yang menggambarkan prakiraan intesitas dan lintasan siklon yang dikeluarkan pada Jumat 27 Januari 2012 pukul 08:53 WIB
Pulau Jawa dan sekitarnya yang diberi warna oranye tua pada peta menunjukkan Wilayah SIAGA yang mengalami cuaca ekstrim dengan kemungkinan terjadinya hujan deras (>=50mm/hari) dan atau angin kencang (>=50km/jam) dalam 24 jam ke depan.
Pada laman tersebut tertulis bahwa salah satu dampak Siklon Tropis IGGY ini adalah angin dengan kecepatan lebih dari 36 km/jam berpotensi terjadi di Jawa, Bali, NTB, NTT, Sumatera bagian selatan, Laut Jawa, Samudera Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.
Apa ada kaitannya dengan badai matahari? Hakim Luthfi Malasan, Dosen Astronomi ITB, mengatakan dampak badai matahari tidak terkait dengan kondisi cuaca yang tidak menentu di Indonesia akhir-akhir ini. Badai matahari terjadi ketika matahari mengeluarkan gelombang elektromagnetiknya ke luar orbit. Hantaman gelombang elektromagnetik ini dapat merusak satelit dan jaringan telekomunikasi.
Kedua pertanyaanmu telah terjawab anakku.
Angin ribut yang melanda ini adalah akibat Siklon Tropis IGGY, dan tidak ada kaitannya dengan badai matahari.
NB: informasi lebih detail mengenai siklon tropis dapat dibaca di Australia Government, Bureau of Meteorology
http://green.kompasiana.com/iklim/2012/01/27/siklon-tropis-iggy-penyebab-angin-ribut/
Kamis, 12 Januari 2012
Failed Russian Mars Probe May Crash in Indian Ocean Sunday
by Mike Wall, SPACE.com Senior Writer
A doomed Russian Mars probe that's been stuck in Earth orbit for two months may finally come crashing down Sunday (Jan. 15) over the Indian Ocean, Russian space officials say.
The 14.5-ton Phobos-Grunt spacecraft should fall back to Earth sometime between Saturday and Monday (Jan. 14 to Jan. 16), Russia's Federal Space Agency, known as Roscosmos, announced in a statement today (Jan. 11).
If Phobos-Grunt comes down at the "central point" in that window — 4:18 a.m. EST (0918 GMT) on Sunday — it will fall over a stretch of empty ocean west of the Indonesian island of Java, according to a re-entry projection map Roscosmos published with the update.
But these projections are far from set in stone. The predicted time and place of re-entry may change as engineers continue to track the spacecraft's decaying orbit, officials said. All that's known for sure is that Phobos-Grunt will come down somewhere between 51 degrees north latitude and 51 degrees south latitude. [Photos of the Phobos-Grunt mission]
Falling back to Earth
Phobos-Grunt launched Nov. 8 on a mission to collect soil samples from the Mars moon Phobos and return them to Earth ("grunt" means "soil" in Russian). However, the probe's main engines failed to fire as planned to send it toward Mars, and the craft got stuck orbiting Earth.
Russian officials still aren't sure what caused the failure. They recently raised the possibility that some form of sabotage may have crippled Phobos-Grunt and doomed its $165 million mission.
The spacecraft has been spiraling lower and lower for months, on an inevitable collision course with Earth's atmosphere. The minimum altitude of Phobos-Grunt's orbit as of today is about 106 miles (171 kilometers), according to Roscosmos.
The huge probe is carrying about 7.5 tons of toxic hydrazine fuel, prompting some observers to worry about potential environmental impacts of the probe's looming re-entry. Russian space officials have repeatedly dismissed those concerns, however, saying that the fuel — which is encased in an aluminum tank — should burn up high in Earth's atmosphere.
Most of Phobos-Grunt should meet that same fate. Experts predict that just 20 to 30 pieces, weighing a maximum of 440 pounds (200 kilograms) in total, will actually hit the Earth.
Phobos-Grunt's demise comes close on the heels of two other uncontrolled satellite falls recently. NASA's 6.5-ton UARS climate satellite re-entered over the Pacific Ocean in September, and Germany's 2.7-ton ROSAT satellite crashed over the Indian Ocean a month later.
Both the UARS and ROSAT re-entries were expected, however, and the two satellites had long since completed their primary science missions. No one on the ground was hurt in either instance.
http://www.space.com/14215-phobos-grunt-mars-probe-crash-indian-ocean.html
Rabu, 11 Januari 2012
Teleportasi, Alternatif Transportasi Masa Depan
Apa yang anda bayangkan bila anda bisa berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dalam hitungan detik? Bukan menggunakan sulap, sihir atau ilmu gaib. Anda bisa berpindah semudah anda naik lift dan segera sampai ke tempat tujuan. Gambaran peristiwa seperti itu dapat dijumpai dalam film fiksi Star Trek, tokoh-tokohnya berpindah tempat dengan masuk pada sebuah ruang, dan keluar pada ruang serupa di tempat lain.
Teleportasi adalah sebuah istilah yang berkaitan dengan pemindahan materi dari satu titik ke titik yang lain tanpa mengubah jarak antara mereka (wikipedia). Kata teleportasi pertama kali digunakan oleh Charles Fort, seorang penulis Amerika, pada pada tahun 1931 dalam bukunya berjudul “Lo!” untuk menggambarkan keanehan ketidaknampakan dan penampakan anomali yang bisa jadi berhubungan. Teleportasi adalah gabungan dari kata tele (bahasa Yunani) yang berarti jauh dan portare (bahasa Latin) yang berarti membawa.
Teleportasi melibatkan dematerialisasi suatu objek, dan mengirimkannya dalam bentuk detail susunan atom-atom ke lokasi lain yang menjadi tujuan. Hal ini berarti waktu dan ruang dapat dieliminasi dari suatu perjalanan, sehingga kita dapat dipindahkan ke lokasi mana saja secara instan, tanpa melintasi jarak secara fisik (sciencebiotech).
Secara sederhana, teleportasi dilakukan dengan mengubah partikel menjadi gelombang, mengirimkannya ke tempat tujuan, dan mengubah gelombang menjadi partikel kembali di tempat penerimaan. Profesor Akira Furusawa di Tokyo pada April 2011 berhasil melakukan uji coba pertama di dunia yang meneleportasikan informasi kuantum kompleks (suara merdeka) sebagai kelanjutan percobaan-percobaan sebelumnya. Percobaan teleportasi yang telah berhasil dilakukan adalah teleportasi foton pada tahun 1998 oleh fisikawan Institut Teknologi California (Caltech), teleportasi sinar laser oleh peneliti Universitas Nasional Australia (ANU)pada tahun 2002 dan Dr Eugene Polzik dkk dari Niels Bohr Institute Copenhagen tanggal 4 Oktober 2006.
Manusia merupakan sistem yang kompleks jika dibandingkan dengan materi fisis dan makhluk hidup lain. Manusia tidak sekedar memiliki tubuh, tetapi juga memiliki jiwa dan roh. Meski demikian, secara teori sangat dimungkinkan untuk mengirimkan manusia melalui teleportasi, terlepas dari berbagai pendapat yang pro dan kontra. Saat ini teknologi pendukung belum dapat dikembangkan, tapi di masa depan teknologi ini menjanjikan sebuah solusi untuk mengatasi masalah transportasi. Impian di masa lalu dan masa kini adalah keniscayaan di masa depan. Teleportasi adalah impian alternatif transportasi masa depan yang bebas polusi dan bebas macet.
http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2012/01/11/teleportasi-alternatif-transportasi-masa-depan/
Sabtu, 07 Januari 2012
52 Tahun Satelit Yupiter
Io merupakan benda langit dalam sistem tata surya yang paling aktif secara vulkanik. Permukaan Io ditutupi oleh belerang dalam berbagai bentuk warna-warni yang berbeda. Permukaan Europa sebagian bersar terdiri dari es (dari air) dan ada bukti yang menunjukkan kebolehjadian adanya lautan air di bawahnya. Ganymede adalah satelit terbesar dalam tata surya kita, bahkan lebih besar dari Merkurius, sekaligus merupakan satu-satunya satelit yang memiliki medan magnet internal. Permukaan Callisto penuh dengan kawah, namun kawah-kawah yang sangat kecil menunjukkan aktivitas permukaan rendah.
Bagian dalam Io, Europa, dan Ganymede memiliki struktur lapisan seperti Bumi. Io memiliki inti dan mantel bebatuan, keraknya terdiri dari bebatuan yang dilapisi belerang. Europa dan Ganymede memiliki inti, batuan yang melapisi inti, lapisan tebal es lunak dan kerak tipis es murni. Lapisan-lapisan pada Callisto diperkirakan terdiri dari campuran es dan bebatuan.
Lima puluh dua tahun telah berlalu, tercatat ada 50 satelit yang telah diakui dan 14 satelit yang berada dalam daftar tunggu untuk diakui. Dari situs NASA, satelit-satelit Yupiter adalah:
1. Io
2. Europa
3. Ganymede
4. Callisto
5. Amalthea
6. Himalia
7. Elara
8. Pasiphae
9. Sinope
10. Lysithea
11. Carme
12. Ananke
13. Leda
14. Thebe
15. Adrastea
16. Metis
17. Callirrhoe
18. Themisto
19. Megaclite
20. Taygete
21. Chaldene
22. Harpalyke
23. Kalyke
24. Iocaste
25. Erinome
26. Isonoe
27. Praxidike
28. Autonoe
29. Thyone
30. Hermippe
31. Aitne
32. Eurydome
33. Euanthe
34. Euporie
35. Orthosie
36. Sponde
37. Kale
38. Pasithee
39. Hegemone
40. Mneme
41. Aoede
42. Thelxinoe
43. Arche
44. Kallichore
45. Helike
46. Carpo
47. Eukelade
48. Cyllene
49. Kore
50. Herse
Ironisnya berbagai buku pelajaran IPA SMP menyebutkan informasi yang bervariasi mengenai satelit Yupiter, jumlah satelitnya hanya berkisar dari 8 - 15. Bila guru hanya sekedar menggunakan buku-buku tersebut tanpa mencari informasi aktual dari sumber dunia maya terpercaya maka guru akan terjebak untuk memberikan informasi kadaluarsa, informasi out of date yang sudah jauh tertinggal.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/07/52-tahun-satelit-yupiter/
Selasa, 28 Desember 2010
Jumlah Planet di Tata Surya Akan Berkurang

VIVAnews - Tahun 2006 lalu, International Astronomical Union (IAU) mendegradasi Pluto dari planet menjadi sebuah planet kerdil (dwarf planet). Alasannya, dari sisi ukuran, Pluto tidak memenuhi syarat sebagai untuk disebut sebagai sebuah planet.
Saat ini sistem tata surya tinggal memiliki delapan planet yang mengelilingi Matahari. Akan tetapi, dari bukti-bukti baru yang ditemukan, ke depannya bisa jadi tata surya hanya akan terdiri dari 7 buah planet saja.
Dari sisi ukuran, Merkurius memang dua kali lebih besar dibanding Pluto. Namun ternyata, Merkurius, yang kini menjadi planet terkecil yang ada di tata surya itu juga semakin menciut.
Peneliti memperkirakan, Merkurius memang tidak akan jadi sekecil mantan planet kesembilan milik tata surya. Akan tetapi jika ukurannya terus mengecil, IAU tentu akan mendegradasi status planet itu.
Penyebab menciutnya ukuran Merkurius adalah karena inti planet itu yang terdiri dari zat besi cair terus mendingin dan memadat sehingga menciutkan ukuran planet itu dari dalam. Menurut peneliti, pergerakan ini sudah berlangsung sejak miliaran tahun yang lalu.
Penciutan Merkurius juga terlihat dari foto-foto milik satelit Messenger milik NASA yang menggambarkan terjadi lipatan di kerak planet itu. Dari foto juga terungkap bahwa dulu, Merkurius punya banyak gunung berapi yang meletus. Adapun yang mematikan gunung itu adalah karena inti planet semakin dingin.
“Merkurius menunjukkan pada kita berapa besar pengaruh pendinginan inti planet terhadap evolusi yang terjadi di permukaan,” kata Sean Solomon, peneliti dari Carnegie Institution for Science, di Washington, seperti dikutip dari LA Times, 28 Desember 2010.
Sama seperti Mars dan Bulan, Merkurius sangat berapi saat ia lahir. Namun planet itu kehilangan panasnya sejalan dengan pertumbuhannya selama sekitar 4,5 miliar tahun terakhir yang menghentikan aktivitas vulkanik di sana.
Sebagai informasi, planet Bumi juga mengalami pendinginan dengan cara yang serupa. Dan dalam waktu beberapa miliar tahun mendatang, Bumi juga akan terlalu dingin untuk gunung berapi. Setelah inti bumi semakin dingin, gunung-gunung berapi di Bumi akan berhenti meletus. (umi)
Pesawat Bisa Sebabkan Hujan Es atau Salju
VIVAnews - Anda pernah menyaksikan hujan salju atau hujan es turun di kota-kota atau di pelosok Indonesia? Ternyata, fenomena itu bukanlah hal yang aneh dan sudah ada penjelasannya. Ini dia.
Saat sedang duduk di kabin, dengan sandaran kursi berdiri tegak serta meja makan di hadapan Anda dalam posisi terkunci, pesawat yang Anda tumpangi bisa jadi sedang memicu kejadian tak lazim, misalnya seperti hujan es.
Andrew Heymsfield, mikrofisikawan dari National Center for Atmosfpheric Research di Boulder, Colorado, menemukan bahwa pesawat bisa menyebabkan lubang di awan dan mengubah cuaca daratan di bawahnya.
Seperti dikutip dari Discovermagazine, Senin 27 Desember 2010, kristal es tidak terbentuk dengan mudah. Sama halnya dengan titik-titik uap air yang tetap dalam bentuk asalnya, meskipun atmosfir di sekitarnya mencapai jauh di bawah titik beku.
Menurut Heymsfield, pesawat yang memasuki awan yang super dingin setelah mereka tinggal landas atau sebelum mendarat bisa menyebabkan gangguan yang dapat membekukan titik-titik uap air tersebut secara instan.
“Ketika mesin turboprop milik pesawat memaksa air di belakang sirip-sirip propeller atau ketika mesin jet menyebabkan udara lembab mengalir di bawah sayap agar memberi daya angkat pada pesawat, udara kemudian menyebar dan mendingin,” ujar Heymsfield.
Salah satu dari efek yang ditimbulkan pesawat itu, kata Heymsfield, bisa menurunkan temperatur udara hingga lebih dari satu derajat.
“Ini seketika akan membekukan titik-titik air di awan,” kata Heymsfield. “Titik air ini dengan cepat akan membentuk kristal es yang keluar dari awan sebagai salju,” ucapnya.
Heymsfield menyebutkan, fenomena ini sedikit menjelaskan terjadinya keterlambatan pesawat di musim dingin yang belakangan banyak terjadi.
“Efek utama dari kejadian ini adalah berubahnya curah hujan lokal,” tutur Heymsfield. “Di sekitar bandara, khususnya di musim dingin, lebih banyak salju yang turun dibandingkan di kawasan lain”. (art)
• VIVAnewsRabu, 22 Desember 2010
Cahaya Lampu Kota Cemari Udara?
VIVAnews - Kilauan cahaya lampu kota ternyata bisa dianggap sebagai elemen yang turut mendukung pencemaran udara. Begitu hasil sebuah kesimpulan dari penelitian yang dilakukan belum lama ini.
Pasalnya, cahaya lampu kota melenyapkan molekul yang biasanya membersihkan atmosfer di malam hari. Dari hasil riset para peneliti dariNational Oceanic and Atmospheric Administration(NOAA), ternyata cahaya lampu kota memiliki andil mencegah produksi molekul Nitrogen Oksida atau dikenal juga dengan nama radikal nitrat.
Biasanya, molekul yang terbentuk dari reaksi nitrogen dioksida dengan ozon itu, mengikat polutan udara yang berseliweran di udara, pada malam hari. Namun, kehadiran cahaya lampu kota di malam hari membuat pembentukan molekul ini terhambat sehingga memperburuk polusi udara kota di kemudian harinya.
Seperti dikutip dari situs Discovery, cahaya lampu di wilayah kota Los Angeles, begitu terang, yakni 10 ribu kali lebih gelap dari cahaya sinar matahari. Namun, ternyata terangnya lampu kota Los Angeles bisa memotong pembersihan udara oleh Nitrogen Oksida, hingga 7 persen.
Akibatnya, pembersihan udara di malam hari mendapat hambatan. Riset mengungkapkan bahwa cahaya lampu kota Los Angeles yang 25 kali lebih terang dari sinar bulan, meningkatkan unsur kimia polutan kota itu sepanjang hari hingga 5 persen.
Menurut Anne Douglas, Goddard Space Flight Center di Maryland, polutan yang banyak menjadi sorot perhatian adalah partikel dan ozon permukaan yang diproduksi oleh bahan kimia. "Anda membutuhkan sinar matahari untuk membuat reaksi kimia ini terjadi. Jadi, biasanya hal ini tidak terjadi pada malam hari," kata Douglass.
Hal senada dikatakan oleh Dr. Harald Stark, pemimpin riset dari NOAA. Menurutnya selama siang hari, tidak terjadi pembersihan ozon oleh radikal nitrat. Pada malam hari, radikal nitrat baru muncul, bereaksi dengan polutan dan membersihkannya," kata dia.
Sayangnya, para peneliti khawatir mengubah jenis lampu kota tak akan menolong banyak untuk menghindari masalah ini. Selama ini di penduduk Los Angeles mayoritas menggunakan lampu jenis high-pressure sodium dan metal halida. "Saya pikir kebijakan untuk mengganti jenis lampu bisa memecahkannya," kata Stark.
Kecuali, dia melanjutkan, kota menggunakan lampu warna merah, lampu yang tidak akan mengganggu pembentukan radikal nitrat ini.
• VIVAnews
Jumat, 17 Desember 2010
Learn More about Diamonds
The diamonds that made it to the surface were forced up volcanically, through kimberlite pipes. A typical pipe mine consists of a large vertical shaft with tunnels running from the main pipe. The deepest mine runs about 3,500 feet down into the earth. More than 200 tons of rock, gravel and sand need to be blasted, crushed and processed to yield just one carat of gem quality diamonds. Finding diamonds and getting them out of the ground may require the use of jet engines to thaw the frozen ground or to endure the sweltering desert heat. Only about 20% of all rough diamonds are suitable for polishing; the rest are used for industrial purposes. Once the rough is found the diamond's journey begins.
A large proportion of the world's rough supply finds its way to De Beers' Central Selling
STAGE 3 - MANUFACTURING THE DIAMOND
Regardless of the source, all rough eventually finds its way to the cutting centers. Today, the major cutting centers are Antwerp, Israel, Bombay, Johannesburg, and New York. Upon reaching its destination the rough is carefully examined to decide how it should be
The stone then goes through a series of cutters who each have their own specialty. Finally the diamond is polished and ready for sale.
STAGE 4 - THE FINAL JOURNEY
After a diamond is manufactured it needs to be sold. For decades diamond manufacturers have sold their cut diamonds to jewelry manufacturers and diamond wholesalers who in turn, sell to jewelry wholesalers and to retail jewelry stores. Today's technology is changing the diamond pipeline. Diamond manufacturers now have a direct link to the final customer.
Manfaat di Balik Gempa Bumi
VIVAnews - Gempa bumi, atau istilah lainnya adalah quake, tremor, atau temblor merupakan fenomena pelepasan secara tiba-tiba energi yang ada di kerak bumi yang mengakibatkan gelombang seismik yang skalanya diukur dengan seismograf. Semakin tinggi magnitudonya, semakin parah guncangan akibat pergeseran kerak bumi itu.
Di permukaan bumi, gempa muncul dengan wujud guncangan dan terkadang menggeser tanah. Jika pusat gempa terjadi di lepas pantai, dasar laut kadang mengalami pergeseran yang cukup besar yang dapat menyebabkan tsunami. Guncangan gempa juga bisa memicu tanah longsor dan kadang menghidupkan kembali aktivitas gunung volkanik.
Meski demikian, gempa bumi bukanlah fenomena yang mengerikan saja. Ternyata, menurut Hugh Ross, astrofisikawan asal Royal Astronomical Society, Montreal, Kanada, ada manfaat lain yang ditimbulkan oleh gempa bumi.
“Apakah kita membutuhkan gempa bumi? Jawabannya adalah, Ya,” kata Ross, seperti dikutip dari CosmicFingerprints, 17 Desember 2010. “Tanpa adanya gempa bumi atau aktivitas lempeng tektonik, nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan di atas tanah akan terkikis dari benua dan terkumpul di samudera,” kata Ross.
Setelah beberapa waktu tanpa gempa bumi, kata Ross, kehidupan akan semakin sulit di daratan, meski kehidupan di lautan masih berjalan dengan normal.
“Berkat aktivitas gempa bumi, nutrisi dan mineral-mineral lain yang terkandung di samudera bisa didaur ulang ke permukaan benua,” kata Ross. “Kita dapat melihat dengan jelas jumlah dan intensitas gempa yang terjadi yang dapat menjaga siklus daur ulang itu. Akan tetapi, bagi kita yang tinggal di perkotaan, dampaknya tidak terlalu terasa,” ucapnya.
Jumat, 10 Desember 2010
Teka-teki Pembentukan Gua Terpecahkan
SELAMA lebih dari seabad para ilmuwan telah menemukan dan memercayai mekanisme dasar pembentukan gua, yakni sebuah patahan kecil terbentuk pada batuan dan air masuk ke dalamnya. Air yang masuk mengandung karbon dioksida, lalu membentuk asam lemah yang mampu melarutkan kalsium karbonat pada batuan.
Namun, masalahnya, mekanisme tersebut menyisakan teka-teki. Bagaimana pelarutan bisa berlangsung begitu cepat sehingga bisa mengakibatkan penetrasi yang begitu dalam dan membentuk sistem gua? Sebagai informasi, sistem gua Mammoth Cave di Kentucky bisa mencapai 580 kilometer.
Baru-baru ini, teka-teki itu terpecahkan lewat analisis matematis terbaru. Piotr Szymczak, fisikawan dari Universitas Warsawa, dan rekannya, Anthony Ladd, insinyur kimia dari University of Florida in Gainesville menguraikan analisisnya di Earth and Planetary Science Letters.
Analisis itu menguraikan bahwa aliran air dalam batuan selalu memiliki ketidakstabilan matematis. Singkatnya, ketika patahan mulai terbentuk, air terkonsentrasi untuk mengalir ke dalam saluran tersebut, memperbesarnya dan mengorbankan saluran lain.
"Mekanisme yang disebut channeling ini mempercepat pelarutan. Itulah yang membuat air bisa memenetrasi begitu dalam. Kebanyakan dari model matematika yang menguraikan pembentukan gua tidak memiliki mekanisme ini sama sekali," tutur Szymczak.
Analisis baru yang dikemukakan Szymczak bisa menjelaskan alasan mengapa pembentukan gua di wilayah bendungan kadang lebih cepat dari yang diharapkan. Model tersebut juga bisa membantu menjelaskan cara air merembes di celah batuan.
Rabu, 08 Desember 2010
Basic Principles Of Theory Of Evolution
What is life? What is fit? And what does it mean to survive?
Well, there are many definitions of course. A useful definition, in scientific perspective, is the one that allow us to analyze myriads things with fewest principles. So here they are.
A living organism is a class of objects that share 3 traits.
1. Reproduce. Living organism can make copies.
2. Inherit. Living organism, in the process of reproducing, will inherit traits to the offspring.
3. Mutate. Living organism, in the process of inheriting, will make small mistakes.
That seems like a reasonable definition. If we look most living things around us, like dogs, cats, pigs, birds, fido, virus, etc., they all share those traits.
However, based on those definitions, God is not alive, while computer virus, religious doctrines, ideologies, and ideas are alive.
I don't think God will mind though. It's just a definition.
The practical aspect is that we can use evolution theory to explain the sort of humans, cats, dogs, germs, doctrines, ideologies, and ideas that are common nowadays.
Different living organism performs those 3 traits differently. Those living organism that reproduces a lot becomes plenty. Those that reproduced a lot, become common.
That's the basic of evolution theory.
For example, we see that peacocks tend to have long elaborated tails. From this, we can guess peacocks with long elaborate tail must have made more peachicks. Perhaps, peahen love peacocks with long elaborate tails. It's true
Suppose it were true. Then peacocks with longer tails will mate with more peahens. Those happy couples will then produce more peachicks.
Male peachicks will inherit long tails. Female peachicks will inherit preferences for long tail. So, peahens like peacocks with long tail.
It looks like a circular argument. It is. The truth is we don't really know for sure, at least just from the reasoning, why peacocks have long tail.
However, we do know that traits that lead to gene pool survival through sexual selection tend to be positive feedback.
Those are traits that either enhance gene pool survival through regular means or signal capability to survive on the females. Samples of the former are Cheetah's speed and men's wealth. Samples of the latter are peacock's tail and sport cars.
The more peacocks have longer tail, the more peacocks in the future, will have even longer tails. The more peahens in the future will get turned on by long tail even more.
Now, most males are poor. Does that mean women like the poor? Does being poor serve gene pool survival?
The answer to the first question is no. The answer to the second is, well, sort of due to various unnatural sex laws against consensual sex. It's tricky.
Selasa, 07 Desember 2010
Jika Matahari Mati

Setelah Matahari sekarat maka akan mati dengan memakan bumi bersamanya. Kehidupan sendiri sudah hancur sebelum matahari menelan Bumi.
Kabar baiknya manusia punya waktu yang sangat sangat panjang sebelum hal itu bisa terjadi. Sebuah panel ilmuwan pada pertemuan tahunan Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu, menggambarkan situasi itu pada tahun 2000 dan meyakini masih berlaku.
Para astronom umumnya setuju bahwa matahari akan membakar habis pasokan bahan bakar hidrogen dalam 5 sampai 7 miliar tahun mendatang. Hal itu akan membuat gravitasi memaksa matahari runtuh ke intinya, dan hidrogen yang tersisa menyebabkan matahari mengembang menjadi raksasa merah.
Pada titik ini, matahari akan menelan bumi. “Bumi akan berakhir di bawah sinar matahari, menguap dan bercampur dengan material matahari,” kata pakar Iowa State University Lee Anne Willson.
“Bagian dari matahari kemudian akan terlempar ke ruang angkasa, sehingga bisa dikatakan Bumi akan dikremasi dan abunya tersebar ke ruang antarbintang.”
Pada saat itu, matahari akan cukup panas untuk membakar semua helium yang disimpan dan ukuran matahari akan berfluktuasi. Matahari tidak cukup besar untuk meledak jadi supernova mengagumkan, sehingga hanya akan runtuh menjadi white dwarf yang relatif dingin.
Kehidupan di Bumi kemungkinan besar sudah lama mati sebelum itu terjadi. Saat sampai tahap raksasa merah, maka matahari akan semakin terang sekitar 10 persen setiap satu miliar tahun. Pada tingkat itu, para ilmuwan memperkirakan bahwa semua air di planet ini akan menguap.
Neil Amstrong Bukanlah Orang Pertama Yang Menginjakkan Kaki Ke Bulan
Seorang ahli fotografer penasaran dengan bayangan yang ada di foto dan memulai investigasi.
dan ternyata, bayangan tersebut adalah ..............